Senin, 21 November 2016

Mengkultur Daphnia Sp di Rooftop

Daphnia Sp, adalah keluarga dari krustasea planktonik kecil, berukuran 0,2-5 milimeter (0,01-0,20 dalam) panjangnya. Daphnia adalah anggota dari urutan Cladocera, dan merupakan salah satu dari beberapa krustasea air kecil yang biasa disebut kutu air (water fleas) karena gaya renang yg berdansa (Wiktionary) mereka menyerupai gerakan kutu. Daphnia hidup di berbagai lingkungan perairan mulai dari rawa asam, air tawar danau, kolam dan sungai.

Pada awal-awalnya saya mencoba mengkultur daphnia berdasarkan artikel-artikel dan blog-blog tentang cara mengkultur daphnia, ada yang menyarankan mengkultur dengan susu bubuk, rendaman teh celup, bakteri ragi dan endapan pupuk kandang ayam.

Namun kebanyakan para aquaris berhasil mengkultur daphnia dengan menggunakan green water atau micro algae baik dari spesies cyanobacteria atau nanocloropis, takaran banyak atau sedikitnya pakan dari micro algae tidak akan membunuh daphnia namun jika micro algae terlalu banyak selama kurun waktu 3 minggu dapat mengakibatkan sedimen atau endapan alga yang dapat mengakhiri populasi daphnia dengan munculnya zooplankton jenis lain yaitu cyclopoida atau copepod, berbeda dengan pakan dari susu bubuk, bakteri ragi dan rendaman teh tidak boleh terlalu banyak atau airnya akan menjadi busuk dan daphnia pun dapat mati dalam hitungan 3 hari saja.

Maka dari itu menurut penulis faktor penentu keberhasilan mengkultur daphnia adalah tergantung dari faktor keberhasilan mengkultur green water atau micro algae.

Mengkultur daphnia dapat di lakukan pada wadah ukuran kecil seperti mangkuk atau akuarium cupang atau wadah baskom, ember atau bahkan kolam,  ukuran wadah besar atau kecil tergantung dari kebutuhan si pengkultur, tapi bagi kebutuhan si penulis lebih baik menggunakan wadah kecil seperti mangkuk karena pada ukuran wadah ini si daphnia dapat di ketahui populasinya karena terkadang daphnia lebih suka berada di bawah permukaan wadah, jika wadahnya besar seperti baskom atau kolam tentunya akan sulit mengetahui populasi daphnia karena daphnia memang hampir 70% lebih suka berada di dasar permukaan wadah. 

Kultur Daphnia dengan menggunakan ember bekas cat tembok ukuran 25 kg

Disini penulis memprioritaskan menggunakan wadah mangkuk styrofoam karena mudah di kontrol, dimana styrofoam berwarna putih sedangkan daphnia berwarna kemerahan, jadi penulis dapat mengetahui kapan suatu wadah harus di panen, disini penulis melakukan panen daphnia bukan berdasarkan berapa hari mengkultur tapi dari penampakan visual populasi daphnia dan warna air kultur yang berubah menjadi kuning gelap dan sedikit keruh.

Seperti di gambar, menggunakan wadah baskom berukuran sedang tapi sulit untuk memantau populasi daphnia karena pekatnya micro algae, kultur berakhir dengan sendirinya di sebabkan munculnya copepod yang memangsa daphnia, copepod dapat muncul dari proses pembusukan endapan algae
Sedimen Alga atau endapan alga yang berlebihan dapat mengakibatkan munculnya copepod atau cyclopoida yang dapat mengganggu populasi daphnia.

Pada kultur Daphnia Sp, penulis menggunakan 12 mangkuk styrofoam, dengan perencanaan 1 hari panen 1 atau 2 wadah styrofoam, cukup untuk 4 akuarium nano dan 2 gentong berisi ikan-ikan molly dan neon tetra, total jumlah keseluruhan ikan ada 11 ekor ikan, kebanyakan ikan cupang sih, hehehe. Namun tidak menutup kemungkinan penulis juga menggunakan 1 ember bekas cat tembok berukuran 25 kg dan dua wadah baskom berukuran sedang dan besar dimana hasil panen daphnia nya untuk di simpan di freezer sebagai cadangan pakan.
 
Rooftop, disinilah penulis menyimpan kultur daphnia dan sumber air untuk kultur green water (ember besar berwarna merah).
Mini greenhouse, kultur daphnia di tutup dengan plastik untuk menghindari panas yang berlebihan, pada musim hujan kultur daphnia terlindung dari terpaan air hujan dan tetap berjalan dengan baik.


Panen Daphnia dengan saringan teh


Penulis melakukan panen dengan menggunakan 2 jenis jaring, yaitu satu jaring halus dan satu saringan teh, jaring halus di gunakan untuk mendapatkan anakan daphnia (babies daphnia) yang masih berumur beberapa hari hingga 2 minggu, sedangkan saringan teh digunakan untuk mendapatkan indukan daphnia yang siap untuk di berikan ke ikan-ikan sebagai pakan. Anakan daphnia di letakan kembali ke wadah / media kultur untuk di besarkan menjadi indukan daphnia selanjutnya.

Daphnia yang telah di panen di masukkan kedalam botol bekas air mineral yang di beri selang silikon, dengan memencet botol maka air berikut daphnia akan keluar bersamaan melalui selang silikon tersebut dan kemudian masuk ke dalam aquarium.

Botol bekas Air Mineral diisi selang silikon

Jika panen berlebihan terkadang penulis memasukan daphnia ke dalam freezer sebagai cadangan pakan jikalau suatu saat nanti kultur daphnia mengalami crash secara keseluruhan.

Daphnia setelah di bekukan di freezer.

Daphnia setelah di cairkan dari pembekuan, tetap berwarna merah walaupun sudah dalam keadaan mati tapi ikan-ikan masih tetap suka melahapnya.

Sejak artikel ini saya tulis akhirnya kultur ini telah berjalan 11 bulan hanya dengan  membeli 1x starter daphnia di toko pakan ikan seharga 2ribu rupiah. Saya berharap kultur terus berjalan sampai kedepannya. 

Bagi Anda yang berminat untuk order bibit Daphnia Sp berikut starter Green Water Micro Algae bisa anda dapatkan disini, sebelumnya saya ucapkan Terima kasih telah membaca blog ini, semoga bermanfaat.

2 komentar: